“ Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : 'Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (QS Al Furqan : 27-29)
=======================================================
Akhir-akhir ini prodi kami sering mengadakan acara kumpul bersama. Mulai dari lomba-lomba, party, hingga dinner bareng satu angkatan. Kalau bukan karena aku telah berazzam untuk memperbaiki imanku dengan menjauhi segala hal-hal yang akan mengotori imanku, tentulah aku akan menghadiri acara-acara itu. Seperti dulu-dulu saat aku masih sering mengiyakan ajakan mereka.
Nampaknya absenku belakangan ini mengundang sedikit perbincangan mereka. Maklumlah, mereka sangat mengelu-elukan sekali kekompakan, kebersamaan, kesolidan kelas. Nampaknya, absenku ini dianggap sebagai bentuk ketidakkompakan, kekurang empatian dengan teman-teman yang lain.
Harus bagaimanalah aku menjelaskan? Jika apa yang menjadi prinsipku dan prinsip mereka jauh berbeda, bagaimana aku bisa memahamkan mereka? Yang aku tahu, aku melakukan ini semata-mata untuk mendekatkan diri pada Rabb-ku. Bukan aku sok suci, bukan. Justru karena aku sangat tidak suci, karena dengan sedikit godaan saja imanku bisa kembali carut-marut, karena itulah aku ingin menjauhi -sejauh jauhnya- hal yang bisa menggoyahkan imanku.
Satu masalah yang lain adalah, mungkin mereka menganggapku ekstrim, kolot, berlebihan. Ini kan sekedar makan-makan. Bagiku, itu bukanlah sekedar makan-makan. Banyak sekali hal yang bisa membawa hati pada kefuturan. Banyak sekali hal yang bisa membawa fitnah. Aku ingin berkumpul bersama kalian, tapi tidak dengan tempat dan cara yang membawa kegelisahan di hatiku.
Kebersamaan yang aku dambakan dari dulu, persahabatan yang saat ini aku sedang mencarinya, adalah dimana saat aku dan mereka bersama, maka akan semakin menambah keimanan kami. Semakin bertambah-tambah cinta kami pada satu sama lain. Semakin bertambah-tambah kecintaan kami pada Rabb kami. Kebersamaan yang menimbulkan semerbak bahagia dalam dada, bukan kegelisahan karena melanggar dosa.
Kebersamaan yang diridhai, insya Allah. Yang sejati. Kebersamaan yang sejati atas dasar keimanan, karena aku yakin kebersamaan seperti itulah yang aman dunia dan akhirat. Karena hak-hak persaudaraan yang terjaga, karena orientasinya sama yaitu akhirat.Bukan kebersamaan semu yang hanya berlandas kesenangan sementara.
No comments:
Post a Comment