Pages

Tuesday, May 6, 2014

Benarkah Engkau Menahan Pandanganmu?





Ini tentang menundukkan pandangan...
//nasihat ini pertama kali ditujukkan untuk diri kami sendiri,
//kemudian untuk saudari-saudari kami yang kami cintai karena Allah...

<Qur’an an-Nuur ayat 31>
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. . .”
</Qur’an>

Saudariku yang dimuliakan dengan islam, kita sudah sangat hafal dengan perintah yang satu ini. Menjaga pandangan, menundukkan pandangan, menahan pandangan. Allah menyuruh kaum laki-laki maupun perempuan untuk menahan pandangannya (an-Nuur ayat 30 ditujukan kepada laki-laki). Tiada yang Allah inginkan bagi kita dengan adanya perintah ini, kecuali kebaikan bagi diri kita sendiri.

Dapatlah kita pahami bahwasanya pintu dari berbagai maksiat, utamanya yang berkaitan dengan syahwat adalah dari pandangan. Dari pandanganlah awal mulanya kita melihat, kemudian terpesona oleh keindahan, dan tanpa kita sadari telah muncul rasa suka kemudian syahwat dalam hati kita. Pandangan pertama terasa indah, akan tetapi kemudian nafsu membuat kita meneruskan pandangan pertama itu dengan pandangan pandangan berikutnya... Padahal Rasulullah Muhammad shallallahu’alaihi wasallam pernah berkata kepada sayyidina Ali radhiallahu ‘anhu.

“Wahai Ali janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua).” (HR Abu Daud, hasan)

Alhamdulillah. Atas hidayah dari Allah telah sampai ilmu ini kepada kita. Kita pun telah melaksanakannya. Ditengah semakin hebatnya fitnah akhir zaman, kita berusaha keras untuk menahan pandangan kita. Bukan hanya demi menjaga hati kita, tapi juga untuk menjaga saudara-saudara kita, ikhwan seagama.
Di lingkungan rumah, di kampus, di sekolah, dimana pun kita berada kita berusaha menjaga pandangan semata-mata untuk menaati Allah, menjauhi penyakit bagi iman kita, dan menghindarkan diri kita menjadi penyebab fitnah. Tertatih-tatih, tapi kita tetap berusaha. Alhamdulillah.

Akan tetapi duhai saudariku, ijinkanlah kami mengingatkan engkau akan satu hal yang mungkin engkau lupakan. Berangkat dari pengalaman kami pribadi, semoga engkau dapat memetik hikmah, dan semoga ini menjadi pengingat bagi kami sendiri.

Engkau berusaha menundukkan pandanganmu saat di hadapan laki-laki langsung, engkau akan langsung tertunduk malu jika tanpa sengaja tatapanmu tertuju pada seorang laki-laki. Akan tetapi saudariku, apakah begitu juga saat engkau menatap laki-laki lewat sebuah layar?

Maksud kami, telahkah engkau menjaga pandanganmu dari menatap laki-laki nonmahram meski  sekedar foto atau video? Sudahkah engkau menjaga matamu dari menikmati kegantengan bintang-bintang film? Apakah engkau menunduk malu saat tak sengaja engkau menatap gagahnya para atlet di TV?

Ataukah justru sebaliknya? Engkau malah menikmati wajah-wajah itu, dibalik layar kaca, dibalik layar komputer atau hape. Engkau menikmati berbagai macam foto teman laki-lakimu dalam berbagai gaya di media sosial. Engkau masih suka sekali menonton film-film dan mengagumi betapa tampan parasnya. Engkau masih tak sungkan memperhatikan atlet-atlet lelaki di tivi. Apakah engkau masih demikian saudariku?

Wahai saudariku, sungguh kami berharap engkau menjawab ‘tidak’. Akan tetapi, jika akhirnya engkau terpaksa menjawab ‘iya’, maka janganlah engkau berputus asa. Izinkanlah kami, sebagai saudari yang mencintaimu dan semata menginginkan yang terbaik untukmu –insya Allah –maka dengarkanlah sedikit nasihat kami ini.

Cukup, wahai saudariku. Katakan pada diri kita “I’ve had enough!”. Mungkin kita kurang menyadari, akan tetapi sesungguhnya yang demikian itu sedikit demi sedikit meracuni iman kita, menggelapkan hati kita. Terkesan sepele, akan tetapi jika kita biarkan maka sesungguhnya kita sedang memanjakan hawa nafsu kita.

Saudariku, hati kita hanya satu. Dan dia tidak bisa dibagi-bagi. Kita tidak bisa menyatukan kecintaan kita pada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dengan hawa nafsu kita terhadap hal-hal haram tadi. Perbanyaklah mengingat Allah, dan senantiasa minta tolong kepada-Nya agar kita diberi kekuatan untuk menjauhi hal-hal tadi. Saatnya untuk berhenti terus-terusan mengikuti hawa nafsu.

Ingatlah, tidaklah kita merelakan sesuatu, meninggalkan sesuatu, melainkan Allah subhanahu wata’ala akan mengganti dengan yang lebih baik lagi. Dan semoga dengan benar-benar menjaga mata ini, kita lebih bisa merasakan manisnya iman, dan hati kita lebih mudah untuk menerima hidayah dari Allah. Aamiin ya Rabb!

Semoga bermanfaat.
Dusun Sleman, 6 Mei 2014.

No comments:

Post a Comment