Saya menemukan sebuah tulisan
yang sangat menarik berjudul “Goodbye Facebook” suatu hari saat menyelami
sebuah situs muslimah. Betapa kalimat pembukanya mebuat saya tersentak. Dan
sampai sekarang masih sering terngiang.
“Analyzing what deters you from Allah is a lifelong and personal
struggle...”
Allahu Akbar! Sebuah kalimat
pembuka sederhana yang membuat saya semakin penasaran untuk membaca tulisan itu
keseluruhan. Ternyata tulisan itu merupakan sebuah catatan dari seorang saudari
kita yang akhirnya menonaktifkan akun facebooknya karena ia merasa facebook
telah menjauhkan ia dari Allah.
Analyzing what deters you from Allah is a lifelong and personal struggle.
Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia maka kira-kira artinya begini :
menganalisa apa yang menjauhkanmu dari Allah adalah perjuangan seumur hidup dan
pribadi.
Alhamdulillaah, kalimat di awal
tadi akhirnya membuat saya berpikir dan
merenung. Apa, apa sebenarnya yang membuat saya dan begitu banyak saudari-saudari
saya yang lain semakin bertambah usia, semakin merasa jauh dari Allah.
Saya akan mencoba berbagi dengan
saudariku muslimah, apa saja yang mungkin menjadi penyebab hilangnya kedekatan
kita kepada Allah Ta’ala. Dan hanya Allah Yang Maha Tahu.
1. Niat
yang tidak ikhlas
Ini tamparan
pertama, dan rasanya akar dari masalah-masalah selanjutnya. Sebagaimana sebuah
hadits mahsyur riwayat Bukhari dan Muslim.
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada
niatnya. Dan setiap orang hanyalah mendapatkan sesuai dengan apa yang dia
niatkan. Maka siapa yang amalan hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka
hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia
yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya
itu kepada apa yang dia niatkan.”
Butuh
perjuangan berat untuk mau kembali menilik apa yang di dalam hati. Butuh
keberanian untuk mengakui jika memang ternyata, apa yang kita lakukan selama
ini tidak semata-mata karena Allah.
Jilbab kita bisa jadi agar dipuji manusia. Maka yang
terjadi adalah kita merasa sudah cukup shalihah hanya dengan berjilbab, lupa menimba
ilmu, lalai memperbaiki akhlak.
Bacaan Qur’an
kita bisa jadi karena mengharap didengar manusia. Kita bersusah payah mempelajari
makharijul huruf agar dikatakan si fulanah bacaannya fasih!
Tutur kata
manis kita bisa jadi untuk memikat hati manusia. Rajin merangkai kata dakwah
nan indah, tapi sejatinya agar orang menilai kita sebagai si shalihah yang
dalam ilmunya.
Demikian kah
keadaan kita? Maka pantas kah kita mengharap kedekatan dengan Allah jika
ternyata rukuk dan sujud kita bukan untuk mengharap wajah-Nya? Bisa jadi ada
berlapis-lapis tabir dusta yang menutupi hati kita. Ya, perasaan ikhlas itu
bisa jadi hanyalah dusta kita pada diri sendiri. Maka mari kita tengok
dalam-dalam, wahai saudariku.
2. Sangat
sedikit ilmu
Malas menimba
ilmu agama bisa menjadi satu sebab kenapa kita menjadi jauh dari Allah. Karena
kedekatan pada-Nya tak akan bisa kita dapatkan tanpa mengetahui ilmu tentang
nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, serta syari’at-Nya yang sempurna dalam agama
islam.
Sedikit ilmu
mempengaruhi kualitas amal kita. Misalnya, kita tidak boleh hanya mencukupkan
diri dengan mengetahui bahwa menutup aurat itu wajib. Akan tetapi kita juga
harus menggali lebih dalam lagi bagaimana syarat-syarat pakaian yang layak
untuk menutup aurat.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
"Barangsiapa
yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan pahamkan ia dengan ilmu
agama." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
3. Banyak
bermaksiat dan senantiasa menuruti hawa nafsu
Tak bisa
bersatu amal shalih dan maksiat. Tak akan dekat kepada Rabb-nya seseorang yang
senantiasa mengikuti hawa nafsu. Maksiat dalam hal ini termasuk maksiat yang
menyusupi hati dan sering kali kita tidak menyadarinya, seperti sombong, dengki,
riya’, banyak berprasangka buruk dan semacamnya.
Maksiat dan
mengikuti hawa nafsu membuat hati sakit dan dilalaikan dari beribadah dan
mengingat Allah. Perumpamaannya
sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat At-tirmidzi
dan lainnya, bahwa apabila seorang hamba melakukan maksiat maka hatinya
terdapat sebuah noda hitam. Dan noda-noda itu bertambah terus seiring
bertambahnya maksiat hingga gelaplah seluruh hatinya, kecuali jika kemudian ia
segera meninggalkannya dan bertaubat.
4. Sangat
sedikit amal shalih
Amal sholih
sangat berpengaruh dalam kehidupan hamba, baik berupa amalan non-ritual maupun
amalan ritual (ibadah) seperti sholat, puasa, zakat, dan sebagainya. Tetapi
amal juga harus memperhatikan niat dan caranya. Amalan sedikit yang niatnya
lurus dan caranya sesuai tuntunan lebih baik daripada amal banyak tetapi rusak
niatnya atau tidak sesuai dengan tuntunan syariat.
5. Sangat
sedikit mengingat Allah
Seseorang
tidak bisa mengklaim ia dekat dengan Allah jika mengingat-Nya saja jarang.
Sebagaimana “dekat” merupakan perasaan yang timbul dari hati, maka yang menjadi
penyebabnya tak lain juga amalan yang memberikan rasa tenteram dalam hati.
Allah subhanahu wata’ala berfirman :
“(yaitu) orang-orang yang
beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d : 28)
6. Banyak
menghabiskan waktu untuk perkara sia-sia
Contoh nyata dari poin ini misalnya
seperti yang ada di artikel “Goodbye, Facebook” di awal tadi. Sangat rugi kalau
kita menghabiskan waktu untuk perkara yang kurang atau bahkan tidak bermanfaat,
padahal waktu tadi akan jauh lebih baik kalau digunakan dalam ketaatan kepada
Allah. Dan bukti kebaikan islam seseorang yaitu apabila dia meninggalkan
perkara-perkara yang tidak berguna. Sabda Rasulullah :
“Setengah
dari bukti kebaikan islamnya seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang
tidak berguna.” (HR At-Tirmidzi)
Demikianlah, beberapa poin yang
semoga selalu kita cek kembali setiap kali kita merasa jauh dari Allah ta’ala.
Ingatlah saudariku, merupakan usaha seumur hidup bagi kita untuk menganalisa
apa yang menjauhkan kita dari Allah. Tak peduli selama apapun, sejauh apapun
atau sesering apapun kita jauh dari Allah, jangan pernah bosan untuk kembali
berjalan menuju-Nya. Ada sebuah kabar gembira yang Rasulullah shalallahu
‘alaihi wasallam sampaikan kepada kita :
“Allah
Subhanahu wata’ala berfirman, ’Aku
sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Aku bersamanya bila dia ingat Aku. Jika dia
mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut
Nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutkan dalam perkumpulan yang lebih
baik dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya
sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa.
Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya
dengan berjalan cepat.” (HR
Bukhari dan Muslim)
Sungguh kebahagiaan yang sejati
adalah saat kita dekat dengan Allah. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang
senantiasa berusaha dekat dengan Allah.
photo credit:
bernat... via
photopin cc