Pages

Tuesday, May 13, 2014

Cantik Karena Akhlak



Cantik itu...

Cantik itu apa sih? Definisi cantik itu bagaimana? Kenapa hampir semua bunga disebut cantik, dan perempuan di seluruh penjuru dunia berlomba-lomba untuk menjadi cantik seperti bunga-bunga?
Cantik itu apakah harus hidung mancung, kulit putih, dengan badan tinggi semampai? Apakah mesti yang seperti itu? Apakah sama definisi cantik antara satu orang dengan yang lain?  Jawabannya pasti tidak. Nah, jadi cantik itu relatif.

Terlebih lagi, kalau kita bicara masalah fisik, cantik fisik itu given dari Sang Pencipta. Bentuk hidung, warna kulit dan tinggi badan itu sudah dari sananya. Itu bukan sesuatu yang kita capai dengan kerja keras kita sendiri. Jadi kita tidak pantas menyandang gelar hebat gara-gara terlahir ke dunia dengan fisik yang cantik sempurna, pun sebaliknya, kita tidak jadi orang yang kalah hanya gara-gara tampilan fisik kita pas-pasan saja.
 
pic by flower story
Kenapa Allah menciptakan rupa manusia berbeda-beda? Yang satu lebih cantik dari yang lainnya? Tentu ada maksud tersendiri dibalik takdir yang Allah tetapkan untuk setiap manusia. Perumpamaannya seperti tanamann, Allah melebihkan sebagian dari yang lainnya.

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar-Ra’d ayat 4)

Terlahir dengan fisik yang cantik boleh jadi menjadi kebaikan bagi seseorang, tapi bisa jadi menjadi bencana jika dianugerahkan kepada yang lain. Dan Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita, tinggal kita mau atau tidak mensyukuri apa-apa yang memang sudah given dari-Nya.

Apa Yang Membuatmu Jauh, Saudariku?




Saya menemukan sebuah tulisan yang sangat menarik berjudul “Goodbye Facebook” suatu hari saat menyelami sebuah situs muslimah. Betapa kalimat pembukanya mebuat saya tersentak. Dan sampai sekarang masih sering terngiang.


“Analyzing what deters you from Allah is a lifelong and personal struggle...”

Allahu Akbar! Sebuah kalimat pembuka sederhana yang membuat saya semakin penasaran untuk membaca tulisan itu keseluruhan. Ternyata tulisan itu merupakan sebuah catatan dari seorang saudari kita yang akhirnya menonaktifkan akun facebooknya karena ia merasa facebook telah menjauhkan ia dari Allah. 

Analyzing what deters you from Allah is a lifelong and personal struggle. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia maka kira-kira artinya begini : menganalisa apa yang menjauhkanmu dari Allah adalah perjuangan seumur hidup dan pribadi. 

Alhamdulillaah, kalimat di awal tadi akhirnya membuat  saya berpikir dan merenung. Apa, apa sebenarnya yang membuat saya dan begitu banyak saudari-saudari saya yang lain semakin bertambah usia, semakin merasa jauh dari Allah.

Saya akan mencoba berbagi dengan saudariku muslimah, apa saja yang mungkin menjadi penyebab hilangnya kedekatan kita kepada Allah Ta’ala. Dan hanya Allah Yang Maha Tahu.
1.       Niat yang tidak ikhlas
Ini tamparan pertama, dan rasanya akar dari masalah-masalah selanjutnya. Sebagaimana sebuah hadits mahsyur riwayat Bukhari dan Muslim.
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Dan setiap orang hanyalah mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka siapa yang amalan hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya itu kepada apa yang dia niatkan.”

Butuh perjuangan berat untuk mau kembali menilik apa yang di dalam hati. Butuh keberanian untuk mengakui jika memang ternyata, apa yang kita lakukan selama ini tidak semata-mata karena Allah.
Jilbab  kita bisa jadi agar dipuji manusia. Maka yang terjadi adalah kita merasa sudah cukup shalihah hanya dengan berjilbab, lupa menimba ilmu, lalai memperbaiki akhlak.
Bacaan Qur’an kita bisa jadi karena mengharap didengar manusia. Kita bersusah payah mempelajari makharijul huruf agar dikatakan si fulanah bacaannya fasih!
Tutur kata manis kita bisa jadi untuk memikat hati manusia. Rajin merangkai kata dakwah nan indah, tapi sejatinya agar orang menilai kita sebagai si shalihah yang dalam ilmunya.

Demikian kah keadaan kita? Maka pantas kah kita mengharap kedekatan dengan Allah jika ternyata rukuk dan sujud kita bukan untuk mengharap wajah-Nya? Bisa jadi ada berlapis-lapis tabir dusta yang menutupi hati kita. Ya, perasaan ikhlas itu bisa jadi hanyalah dusta kita pada diri sendiri. Maka mari kita tengok dalam-dalam, wahai saudariku.

2.       Sangat sedikit ilmu
Malas menimba ilmu agama bisa menjadi satu sebab kenapa kita menjadi jauh dari Allah. Karena kedekatan pada-Nya tak akan bisa kita dapatkan tanpa mengetahui ilmu tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, serta syari’at-Nya yang sempurna dalam agama islam.
Sedikit ilmu mempengaruhi kualitas amal kita. Misalnya, kita tidak boleh hanya mencukupkan diri dengan mengetahui bahwa menutup aurat itu wajib. Akan tetapi kita juga harus menggali lebih dalam lagi bagaimana syarat-syarat pakaian yang layak untuk menutup aurat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
 "Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan pahamkan ia dengan ilmu agama." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

3.       Banyak bermaksiat dan senantiasa menuruti hawa nafsu
Tak bisa bersatu amal shalih dan maksiat. Tak akan dekat kepada Rabb-nya seseorang yang senantiasa mengikuti hawa nafsu. Maksiat dalam hal ini termasuk maksiat yang menyusupi hati dan sering kali kita tidak menyadarinya, seperti sombong, dengki, riya’, banyak berprasangka buruk dan semacamnya.
Maksiat dan mengikuti hawa nafsu membuat hati sakit dan dilalaikan dari beribadah dan mengingat  Allah. Perumpamaannya sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat At-tirmidzi dan lainnya, bahwa apabila seorang hamba melakukan maksiat maka hatinya terdapat sebuah noda hitam. Dan noda-noda itu bertambah terus seiring bertambahnya maksiat hingga gelaplah seluruh hatinya, kecuali jika kemudian ia segera meninggalkannya dan bertaubat.

4.       Sangat sedikit amal shalih
Amal sholih sangat berpengaruh dalam kehidupan hamba, baik berupa amalan non-ritual maupun amalan ritual (ibadah) seperti sholat, puasa, zakat, dan sebagainya. Tetapi amal juga harus memperhatikan niat dan caranya. Amalan sedikit yang niatnya lurus dan caranya sesuai tuntunan lebih baik daripada amal banyak tetapi rusak niatnya atau tidak sesuai dengan tuntunan syariat. 

5.       Sangat sedikit mengingat Allah
Seseorang tidak bisa mengklaim ia dekat dengan Allah jika mengingat-Nya saja jarang. Sebagaimana “dekat” merupakan perasaan yang timbul dari hati, maka yang menjadi penyebabnya tak lain juga amalan yang memberikan rasa tenteram dalam hati. Allah subhanahu wata’ala berfirman :
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d : 28)

6.       Banyak menghabiskan waktu untuk perkara sia-sia
Contoh nyata dari poin ini misalnya seperti yang ada di artikel “Goodbye, Facebook” di awal tadi. Sangat rugi kalau kita menghabiskan waktu untuk perkara yang kurang atau bahkan tidak bermanfaat, padahal waktu tadi akan jauh lebih baik kalau digunakan dalam ketaatan kepada Allah. Dan bukti kebaikan islam seseorang yaitu apabila dia meninggalkan perkara-perkara yang tidak berguna. Sabda Rasulullah :
“Setengah dari bukti kebaikan islamnya seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR At-Tirmidzi)

Demikianlah, beberapa poin yang semoga selalu kita cek kembali setiap kali kita merasa jauh dari Allah ta’ala. Ingatlah saudariku, merupakan usaha seumur hidup bagi kita untuk menganalisa apa yang menjauhkan kita dari Allah. Tak peduli selama apapun, sejauh apapun atau sesering apapun kita jauh dari Allah, jangan pernah bosan untuk kembali berjalan menuju-Nya. Ada sebuah kabar gembira yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sampaikan kepada kita :

 “Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ’Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, Aku bersamanya bila dia ingat Aku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia menyebut Nama-Ku dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutkan dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Bila dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sungguh kebahagiaan yang sejati adalah saat kita dekat dengan Allah. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa berusaha dekat dengan Allah.


photo credit: bernat... via photopin cc