Pages

Saturday, April 19, 2014

Ada Seorang Laki-laki....


Yosh, another shot. Terjemahan lagi. Karena saya merasa ini worth it. Dari sebuah blog favorit juga. Ini tulisan aslinya. Tanya jawab, nasihat. Baca deh...

.....************.......********

Tanya :
Ada seorang laki-laki alim di kelas ku! Tolong jangan salah sangka dan berpikir kami melakukan hal yang buruk. Sumpah, tidak. Kami hanya ngobrol dan chatting online kadang-kadang. Dia benar-benar manis dan mempraktikan islam. Masya Allah. (Aku memakai jilbab). Kadang dia menelponku dan mengingatkanku untuk sholat 5 waktu, menyuruhku baca Qur'an, etc. Aku belum pernah bertemu dengan orang sepertinya sebelumnya. Aku bahkan memberitahu ibuku tentang dia. Ibu tau aku ngobrol dengannya.

Muslimah-muslimah yang lain di masjid betanya padaku tentang dia tapi aku bilang kami hanya berteman.
Tapi diam-diam   aku menyukainya lebih dari seorang teman dan berpikir mungkin dia juga menyukaiku? Aku nggak tau sih. Dia selalu menyebutku 'saudari'. Jadi bisa saja dia menganggapku seorang teman. Meski begitu, senang rasanya punya seseorang yang memahamiku. Dia satu-satunya muslim di kelasku dan kadang rasanya kami satu-satunya muslim di seluruh sekolah!
 Tapi kadang-kadang, aku penasaran....apakah aku melakukan sesuatu yang haram?

Jawab :

Dear saudariku,


Friday, April 18, 2014

Engkau adalah Bagaimana Engkau Makan


               
                Another terjemahan dari sini. Masya Allah cerita yang mengagumkan dan satu pesan yang tak terlupa : kita sebagai perempuan seringkali menginginkan hal-hal yang menantang (tapi tidak sesuai untuk kita) layaknya naik gunung dsb, padahal tantangan besar itu ada pada menjalankan sunnah. Check it out!


image courtesy by Ani-Bee
                “Bagaimana caramu makan?” orang-orang bertanya padaku. Seperti, darimana masuknya makanan, atas atau bawah? Kadang aku harus menahan keinginan menjawab, “dari atas.” Pertanyaan macam apa itu? Bagaimana mungkin aku makan dari atas cadarku? Apa, aku pelototi makanannya, dan makanan itu akan turun ke hidungku lalu ke mulutku? Yang benar saja? Tentu saja aku buka sedikit cadarku dan makan dari bawah, mulutmu juga letaknya di bawah kan?
                Kau akan mengira mereka akan berhenti disitu. Tapi tidak, mereka perlu melihat aksi nyatanya. Jadi setiap aku duduk untuk makan, mereka akan berusaha duduk di seberangku. Dan makanan mereka akan dingin sementara mereka menonton pertunjukan seorang gadis mencoba makan dengan mulut tertutup. Mereka akan menanti-nanti sementara aku mengatur suapanku di piring, dan segera ketika tangan kananku terangkat, mereka hening. Percakapan mereka berhenti di tengah.

Selamat Tinggal, Facebook!


Ini adalah salah satu tulisan favorit saya, dari penulis yang saya tidak kenal tapi saya berharap bisa bertemu dengan beliau kelak, kalau tak di dunia di surga insya Allah.  dari sini juga quote favorit saya : analyzing what deters you from Allah is a lifelong and personal struggle. Ini link aslinya dalam bahasa inggris, saya coba terjemahkan. Paragraf demi paragraf ada nasihat. Langsung aja dibaca ....
....***...****.....
Teman-teman SMAku memberitahuku tentang Facebook, berhubung masing-masing dari mereka punya akun, akupun memutuskan untuk membuat akun juga meski saat itu aku tidak ambil pusing tentang akunku. Aku tidak pernah menampilkan foto-fotoku di media sosial dan aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menampilkan fotoku di facebook. Tapi kemudian semua orang yang kukenal menampilkan foto mereka. Jadi, akupun mulai mengunggah foto-fotoku, dan tanpa kusadari sudah banyak sekali fotoku disana.
Yang terjadi berikutnya adalah laki-laki yang kukenal mulai menambahkanku sebagai teman. Aku segan di awalnya, tapi suara dalam diriku memberitahuku untuk bersikap dewasa dan bahwa itu bukanlah hal yang besar.
Komentar pertama yang aku dapat adalah dari seorang teman laki-laki dari sekolah, “foto yang bagus, Maryam.” Apa yang dia maksud itu? Aku bertanya pada diriku sendiri. Apa dia sedang bersikap akrab? Sejujurnya, aku merasa tidak enak saat dia menulis komentar itu, tapi lalu suara di dalam diriku berkata agar tidak bersikap berlebihan dan agar bersikap sopan, maka aku mengatakan terimakasih padanya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, tapi aku mulai mengikuti dunia. Nilai-nilai yang kupegang menjadi usang bagiku. Kompromi-kompromiku berubah menjadi pengorbanan besar. Aku menjadi tidak peka dan kebal terhadap hal-hal haram yang terjadi. Aku lupa bahwa ada Tuhan di luar sana yang mengawasiku, dan aku lupa bahwa aku seharusnya berusaha meniru manusia terbaik, Rasulullah saw.
Orang asing mulai mengirim pesan padaku, meminta untuk berteman. Mereka bilang aku “cantik” dan mereka ingin berteman denganku. Aku bahkan mendapat beberapa lamaran lewat facebook, dapatkah kau percaya itu! Dan ada banyak penguntit (stalkers) yang terus-terusan mengirimiku pesan-pesan bodoh dan lagu-lagu dari Youtube lewat akun palsu.