Ini adalah salah satu tulisan favorit saya, dari penulis
yang saya tidak kenal tapi saya berharap bisa bertemu dengan beliau kelak, kalau
tak di dunia di surga insya Allah.
dari sini juga quote favorit saya : analyzing what deters you from Allah is a
lifelong and personal struggle. Ini link aslinya dalam bahasa inggris, saya
coba terjemahkan. Paragraf demi paragraf ada nasihat. Langsung aja dibaca ....
....***...****.....
Teman-teman SMAku memberitahuku tentang Facebook, berhubung
masing-masing dari mereka punya akun, akupun memutuskan untuk membuat akun juga
meski saat itu aku tidak ambil pusing tentang akunku. Aku tidak pernah
menampilkan foto-fotoku di media sosial dan aku berkata pada diriku sendiri
bahwa aku tidak akan menampilkan fotoku di facebook. Tapi kemudian semua orang
yang kukenal menampilkan foto mereka. Jadi, akupun mulai mengunggah
foto-fotoku, dan tanpa kusadari sudah banyak sekali fotoku disana.
Yang terjadi berikutnya adalah laki-laki yang kukenal mulai menambahkanku
sebagai teman. Aku segan di awalnya, tapi suara dalam diriku memberitahuku
untuk bersikap dewasa dan bahwa itu bukanlah hal yang besar.
Komentar pertama yang aku dapat adalah dari seorang teman laki-laki
dari sekolah, “foto yang bagus, Maryam.” Apa yang dia maksud itu? Aku bertanya
pada diriku sendiri. Apa dia sedang bersikap akrab? Sejujurnya, aku merasa
tidak enak saat dia menulis komentar itu, tapi lalu suara di dalam diriku
berkata agar tidak bersikap berlebihan dan agar bersikap sopan, maka aku mengatakan
terimakasih padanya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, tapi aku mulai
mengikuti dunia. Nilai-nilai yang kupegang menjadi usang bagiku. Kompromi-kompromiku
berubah menjadi pengorbanan besar. Aku menjadi tidak peka dan kebal terhadap
hal-hal haram yang terjadi. Aku lupa bahwa ada Tuhan di luar sana yang mengawasiku,
dan aku lupa bahwa aku seharusnya berusaha meniru manusia terbaik, Rasulullah
saw.
Orang asing mulai mengirim pesan padaku, meminta untuk
berteman. Mereka bilang aku “cantik” dan mereka ingin berteman denganku. Aku bahkan
mendapat beberapa lamaran lewat facebook, dapatkah kau percaya itu! Dan ada
banyak penguntit (stalkers) yang terus-terusan mengirimiku pesan-pesan bodoh
dan lagu-lagu dari Youtube lewat akun palsu.
Setelah itu, saat aku mundur sejenak dari facebook, aku
berhenti berinteraksi dengan laki-laki disana karena sebuah ayat dari Qur’an
terus berputar di kepalaku :
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk
beribadah kepadaku.” [Ad –Dzariyat ayat 56]
Saat aku terbangun dari mabukku, aku sadar bahwa aku telah
menjadi seorang Maryam yang tidak pernah
kuinginkan. Aku punya banyak teman, tapi aku tidak bahagia karena tidak satupun
dari mereka mengingatkan aku pada Allah ta’ala. Tak ada dari mereka yang
memberitahuku bawha menampilkan foto dan
chatting dengan orang asing adalah salah dan bertentangan dengan Sunnah.
Setan senang menyebarkan percampuran(laki-laki dan
perempuan) dan benci rasa malu dan entah kenapa aku telah memilih untuk
mengikuti setan daripada mengikuti Allah ta’ala.
Nabi Muhammad saw bersabda :
“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di
Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar
tempatnya di Neraka.” (HR Ahmad, Tirmidzi)
Aku punya iman, dan aku seorang yang bertauhid. Tapi dimana
rasamalu-ku dan dimana prioritasku? Aku telah menjadi budak nafsuku. Islam datang
untuk membimbing manusia, dan disini aku dibelenggu nafsuku sendiri, orang
lain, dan media. Allah subhanahu wata’ala
berfirman :
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang
menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya..” (al Jatsiyah ayat 23)
Mengenai ayat ini, imal al Ghazali
mengatakan :
“Mereka yang mengikuti keinginan nafsunya
tidak memenuhi tauhid, karena siapa saja yang mengikuti keinginan nafsunya
membuatnya keinginannya itu objek ibadahnya. Dan tauhid adalah dia yang tidak
melihat apa-apa kecuali Tuhan yang Maha Esa dan hanya menghadapakan wajahnya
padaNya.”
Aku menghapus semua foto-fotoku dan mengubah
pengaturan privasi akunku, tapi aku masih merasa bahwa jiwaku kotor. Hatiku keras.
Bahkan Qur’an tidak bisa masuk ke hatiku dan tidak bisa lagi membuatku menangis. Aku punya semua yang kuinginkan, tapi sesuatu
dalam diriku sekarat. Itu imanku. Imanku tercekik.
Aku sadar bahwa satu-satunya cara untuk menyucikan
jiwaku adalah dengan meninggalkan hal-hal yang melalaikanku. Benar bahwa
facebook punya manfaat, tapi bagiku facebook seperti alkohol, kerusakannya
lebih besar dari manfaatnya.
Maka aku memutuskan untuk melepasnya demi
Allah Ta’ala. Berbulan-bulan aku berjuang dengan keputusanku. Sulit mengucapkan
selamat tinggal pada teman-teman, tapi kuberitahu mereka bahwa mereka bisa
menghubungiku lewat email, dan aku meminta mereka untuk menghapus, memotong
atau mem-blur foto-fotoku dari facebook karena suara dalam diriku berkata “Maryam,
wajahmu sangat berharga dan hanya untuk dilihat oleh suamimu”.
Ya. Aku berjuang dan itu sulit. Aku merelakan
banyak hal yang aku takut tidak bermanfaat bagiku di akhirat. Aku masih dan
akan terus dalam proses menyucikan hatiku insya Allah karena itu adalah
perjuangan seumur hidup. Kadang hal-hal yang kita lakukan terlihat baik menurut
kita tapi mereka lambat laun meracuni iman kita.
Syaikh Reda Bedier mengatakan “awasi hal-hal
kecil, karena lubang kecil akan menenggelamkan kapal besar.”
Kau lihat, kadang, kaki kita berada di dua
kapal yang terpisah, satu yang punya bendera nafsu kita dan satunya lagi yang
mengatakan “Aku mencinta-Mu, Allah.” Sedih rasanya bagaimana kita bermain-main
dengan apa yang penting dan apa yang tidak dan lebih memilih apa yang hati kita
inginkan daripada apa yang Sang Khaliq inginkan untuk kita. Ustadz Khurram
Murad mengatakan :
Hatimu tidak bisa dibagi-bagi. Engkau tidak
bisa mendedikasikan satu bagian untuk Allah subhanahu wata’la dan yang lainnya
untuk Tuhan-tuhan yang lain seperti kekayaan, status, karir, pasangan dan
sebagainya. Allah ta’ala adalah Esa. Tidak dapat dibagi dan ingin agar kita
manusia tidak terbagi-bagi dalam mengabdi kepada-Nya. Selama hati kita ada di
banyak tempat, selama mata kita tertuju ke banyak arah, dan selama kita punya
banyak kesetiaan, kita tidak akan bisa meraih kondisi “berpegang pada Allah
subhanu wata’ala”.
Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu
ke dalam Islam keseluruhan..” (al baqarah :208)
Aku ingin kalian tahu, bahwa jika aku bisa
melakukannya maka kalian juga bisa. Jika kalian mempunya sesuatu di dalam hati
yang menggelisahkan dan membuat tidurmu tak nyenyak, tanyakan satu hal pada
dirimu : “apakah aku siap untuk kematianku, akhiratku?”
Sesungguhnya tidak ada sesuatu di dunia ini
yang dijamin kecuali kematian. Setelah menghapus akun facebookku dan
mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya insya Allah, aku sangat percaya
pada Allah bahwa Dia akan memberiku cara yang lebih baik untuk berdakwah, cara
yang tidak akan melalaikanku insya Allah.
Aku berdoa agar setiap dari kita berhasil
dalam menjadi hamba yang beriman dan istiqomah untuk Allah subhanahu wata’ala. Semoga
Allah, menjadikan kita orang-orang yang senantiasa menyucikan dirinya dan
menolong kita membedakan yang benar dan yang salah. Aamiin.
....***....****....

No comments:
Post a Comment