Pages

Friday, April 18, 2014

Selamat Tinggal, Facebook!


Ini adalah salah satu tulisan favorit saya, dari penulis yang saya tidak kenal tapi saya berharap bisa bertemu dengan beliau kelak, kalau tak di dunia di surga insya Allah.  dari sini juga quote favorit saya : analyzing what deters you from Allah is a lifelong and personal struggle. Ini link aslinya dalam bahasa inggris, saya coba terjemahkan. Paragraf demi paragraf ada nasihat. Langsung aja dibaca ....
....***...****.....
Teman-teman SMAku memberitahuku tentang Facebook, berhubung masing-masing dari mereka punya akun, akupun memutuskan untuk membuat akun juga meski saat itu aku tidak ambil pusing tentang akunku. Aku tidak pernah menampilkan foto-fotoku di media sosial dan aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menampilkan fotoku di facebook. Tapi kemudian semua orang yang kukenal menampilkan foto mereka. Jadi, akupun mulai mengunggah foto-fotoku, dan tanpa kusadari sudah banyak sekali fotoku disana.
Yang terjadi berikutnya adalah laki-laki yang kukenal mulai menambahkanku sebagai teman. Aku segan di awalnya, tapi suara dalam diriku memberitahuku untuk bersikap dewasa dan bahwa itu bukanlah hal yang besar.
Komentar pertama yang aku dapat adalah dari seorang teman laki-laki dari sekolah, “foto yang bagus, Maryam.” Apa yang dia maksud itu? Aku bertanya pada diriku sendiri. Apa dia sedang bersikap akrab? Sejujurnya, aku merasa tidak enak saat dia menulis komentar itu, tapi lalu suara di dalam diriku berkata agar tidak bersikap berlebihan dan agar bersikap sopan, maka aku mengatakan terimakasih padanya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, tapi aku mulai mengikuti dunia. Nilai-nilai yang kupegang menjadi usang bagiku. Kompromi-kompromiku berubah menjadi pengorbanan besar. Aku menjadi tidak peka dan kebal terhadap hal-hal haram yang terjadi. Aku lupa bahwa ada Tuhan di luar sana yang mengawasiku, dan aku lupa bahwa aku seharusnya berusaha meniru manusia terbaik, Rasulullah saw.
Orang asing mulai mengirim pesan padaku, meminta untuk berteman. Mereka bilang aku “cantik” dan mereka ingin berteman denganku. Aku bahkan mendapat beberapa lamaran lewat facebook, dapatkah kau percaya itu! Dan ada banyak penguntit (stalkers) yang terus-terusan mengirimiku pesan-pesan bodoh dan lagu-lagu dari Youtube lewat akun palsu.
Setelah itu, saat aku mundur sejenak dari facebook, aku berhenti berinteraksi dengan laki-laki disana karena sebuah ayat dari Qur’an terus berputar di kepalaku :
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.” [Ad –Dzariyat ayat 56]
Saat aku terbangun dari mabukku, aku sadar bahwa aku telah menjadi seorang Maryam yang  tidak pernah kuinginkan. Aku punya banyak teman, tapi aku tidak bahagia karena tidak satupun dari mereka mengingatkan aku pada Allah ta’ala. Tak ada dari mereka yang memberitahuku  bawha menampilkan foto dan chatting dengan orang asing adalah salah dan bertentangan dengan Sunnah.
Setan senang menyebarkan percampuran(laki-laki dan perempuan) dan benci rasa malu dan entah kenapa aku telah memilih untuk mengikuti setan daripada mengikuti Allah ta’ala.
Nabi Muhammad saw bersabda :
“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.” (HR Ahmad, Tirmidzi)
Aku punya iman, dan aku seorang yang bertauhid. Tapi dimana rasamalu-ku dan dimana prioritasku? Aku telah menjadi budak nafsuku. Islam datang untuk membimbing manusia, dan disini aku dibelenggu nafsuku sendiri, orang lain, dan media.  Allah subhanahu wata’ala berfirman :
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya..” (al Jatsiyah ayat 23)
Mengenai ayat ini, imal al Ghazali mengatakan :
“Mereka yang mengikuti keinginan nafsunya tidak memenuhi tauhid, karena siapa saja yang mengikuti keinginan nafsunya membuatnya keinginannya itu objek ibadahnya. Dan tauhid adalah dia yang tidak melihat apa-apa kecuali Tuhan yang Maha Esa dan hanya menghadapakan wajahnya padaNya.”
Aku menghapus semua foto-fotoku dan mengubah pengaturan privasi akunku, tapi aku masih merasa bahwa jiwaku kotor. Hatiku keras. Bahkan Qur’an tidak bisa masuk ke hatiku dan tidak bisa lagi  membuatku menangis.  Aku punya semua yang kuinginkan, tapi sesuatu dalam diriku sekarat. Itu imanku. Imanku tercekik.
Aku sadar bahwa satu-satunya cara untuk menyucikan jiwaku adalah dengan meninggalkan hal-hal yang melalaikanku. Benar bahwa facebook punya manfaat, tapi bagiku facebook seperti alkohol, kerusakannya lebih besar dari manfaatnya.
Maka aku memutuskan untuk melepasnya demi Allah Ta’ala. Berbulan-bulan aku berjuang dengan keputusanku. Sulit mengucapkan selamat tinggal pada teman-teman, tapi kuberitahu mereka bahwa mereka bisa menghubungiku lewat email, dan aku meminta mereka untuk menghapus, memotong atau mem-blur foto-fotoku dari facebook karena suara dalam diriku berkata “Maryam, wajahmu sangat berharga dan hanya untuk dilihat oleh suamimu”.
Ya. Aku berjuang dan itu sulit. Aku merelakan banyak hal yang aku takut tidak bermanfaat bagiku di akhirat. Aku masih dan akan terus dalam proses menyucikan hatiku insya Allah karena itu adalah perjuangan seumur hidup. Kadang hal-hal yang kita lakukan terlihat baik menurut kita tapi mereka lambat laun meracuni iman kita.
Syaikh Reda Bedier mengatakan “awasi hal-hal kecil, karena lubang kecil akan menenggelamkan kapal besar.”
Kau lihat, kadang, kaki kita berada di dua kapal yang terpisah, satu yang punya bendera nafsu kita dan satunya lagi yang mengatakan “Aku mencinta-Mu, Allah.” Sedih rasanya bagaimana kita bermain-main dengan apa yang penting dan apa yang tidak dan lebih memilih apa yang hati kita inginkan daripada apa yang Sang Khaliq inginkan untuk kita. Ustadz Khurram Murad mengatakan :
Hatimu tidak bisa dibagi-bagi. Engkau tidak bisa mendedikasikan satu bagian untuk Allah subhanahu wata’la dan yang lainnya untuk Tuhan-tuhan yang lain seperti kekayaan, status, karir, pasangan dan sebagainya. Allah ta’ala adalah Esa. Tidak dapat dibagi dan ingin agar kita manusia tidak terbagi-bagi dalam mengabdi kepada-Nya. Selama hati kita ada di banyak tempat, selama mata kita tertuju ke banyak arah, dan selama kita punya banyak kesetiaan, kita tidak akan bisa meraih kondisi “berpegang pada Allah subhanu wata’ala”.
Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan..” (al baqarah  :208)
Aku ingin kalian tahu, bahwa jika aku bisa melakukannya maka kalian juga bisa. Jika kalian mempunya sesuatu di dalam hati yang menggelisahkan dan membuat tidurmu tak nyenyak, tanyakan satu hal pada dirimu : “apakah aku siap untuk kematianku, akhiratku?”
Sesungguhnya tidak ada sesuatu di dunia ini yang dijamin kecuali kematian. Setelah menghapus akun facebookku dan mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya insya Allah, aku sangat percaya pada Allah bahwa Dia akan memberiku cara yang lebih baik untuk berdakwah, cara yang tidak akan melalaikanku insya Allah.
Aku berdoa agar setiap dari kita berhasil dalam menjadi hamba yang beriman dan istiqomah untuk Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah, menjadikan kita orang-orang yang senantiasa menyucikan dirinya dan menolong kita membedakan yang benar dan yang salah. Aamiin.

....***....****....

No comments:

Post a Comment