Pages

Friday, April 18, 2014

Engkau adalah Bagaimana Engkau Makan


               
                Another terjemahan dari sini. Masya Allah cerita yang mengagumkan dan satu pesan yang tak terlupa : kita sebagai perempuan seringkali menginginkan hal-hal yang menantang (tapi tidak sesuai untuk kita) layaknya naik gunung dsb, padahal tantangan besar itu ada pada menjalankan sunnah. Check it out!


image courtesy by Ani-Bee
                “Bagaimana caramu makan?” orang-orang bertanya padaku. Seperti, darimana masuknya makanan, atas atau bawah? Kadang aku harus menahan keinginan menjawab, “dari atas.” Pertanyaan macam apa itu? Bagaimana mungkin aku makan dari atas cadarku? Apa, aku pelototi makanannya, dan makanan itu akan turun ke hidungku lalu ke mulutku? Yang benar saja? Tentu saja aku buka sedikit cadarku dan makan dari bawah, mulutmu juga letaknya di bawah kan?
                Kau akan mengira mereka akan berhenti disitu. Tapi tidak, mereka perlu melihat aksi nyatanya. Jadi setiap aku duduk untuk makan, mereka akan berusaha duduk di seberangku. Dan makanan mereka akan dingin sementara mereka menonton pertunjukan seorang gadis mencoba makan dengan mulut tertutup. Mereka akan menanti-nanti sementara aku mengatur suapanku di piring, dan segera ketika tangan kananku terangkat, mereka hening. Percakapan mereka berhenti di tengah.
                Lalu aku menyelipkan tangan kiriku di bawah cadarku dan aku mengangkatnya, supaya tanganku bisa menutupi wajahku saat ia terbuka. Pada saat itu mereka akan mengerling, tidak sadar akan lengan baju mereka yang menyentuh piring mereka atau ekspresi gembira di wajah bingung mereka. Lalu dengan cepat, isi sendokku telah masuk ke dalam mulutku dan pekerjannya selesai. Bismillah. Cadar kembali ke posisi semula dan aku tersenyum dengan mulutku yang penuh pada wajah-wajah yang terpesona.
                Mereka masih memandangiku beberapa saat dalam sedikit ketakjuban. Lalu mereka kembali pada kalimat-kalimat mereka yang belum selesai dan kembali makan. Tapi mereka masih terus memandang, secara terang-terangan dan diam-diam. Jika kita kebetulan bertemu pandang aku tersenyum, mereka melihatnya dari mataku dan mereka ikut tersenyum, malu.
                Kebanyakan mereka (terutama bibi-bibi) menawarkan nasihat yang tulus, “ayo duduk di pojok sini; kau bisa melepasnya dan makan dengan tenang, tidak ada laki-laki lewat.” Yang lain menggelengkan kepalanya tidak percaya, “kau gila, kenapa kau melakukan ini pada dirimu sendiri!” Yang lainnya lagi beralasan, “Cuma mau lihat bagaimana..” Tidak apa-apa, kau tau, rasa penasaran itu manusiawi. Dan aku biasanya tidak keberatan. Itu menghiburku, memberiku hiburan selama waktu makan.
                Namun kadang mereka melihat apa yang ingin mereka lihat : aku menjatuhkan sesuatu diatas cadarku. Bisanya terjadi saat aku melamun (dimana aku cenderung melakukannya). Seperti waktu itu, saat kami baru saja selesai ujian dan kita mendiskusikan jawabannya. Muram, aku tenggelam memikirkan jawabanku yang salah.
                Jadi waktu itu aku duduk minum secangkir teh, dan aku tidak mengangkat cadarku dengan cukup, dan jadilah lingkaran coklat besar dibawah hidungku. Hari itu panas dan aku tidak sadar hangatnya noda itu. Temanku melihatku dan bertanya, “Zehra? Apakah kau baru saja minum lewat cadarmu?” Apa? Tidak! Refleks tanganku menyentuh mulutku dan aku merasakan basahnya. Allahu Akbar! Dan setiap orang termasuk teman-teman laki-laki yang berdiri di dekat kami mulai tertawa dan akupun tertawa. Temanku mulai mengusapkan tisu diatasnya dan itu membuat kami tertawa semakin keras. Bicara tentang histeria pasca ujian.
                Jadi mereka yang jalan denganku sudah terbiasa dengan pertanyaan ini, “apakah ada sesuatu di cadarku? Kau yakin? Tolong cek lagi. Ada noda kecap atau sisa es krim?”
                Pertama kali makan es krim adalah pengalaman tersendiri. Angin dan melelehnya tidak membantu. Alhamdulillah tapi, semua nodanya ada di bagian dalam cadar jadi aku dengan tidak berdosa berjalan di seputar kampus seharian, sembunyi-sembunyi merasakan cokelat darinya. Saat aku sampai rumah aku lepas cadarku untuk mengkonfirmasi kecurigaan, dan benar ada pulau coklat di atasnya.
                Jadi memakai cadar adalah  petualangan tersendiri dan tentu petualangan yang lebih besar makan dengan memakai cadar. Perempuan-perempuan membayangkan tentang kagiatan-kegiatan klise semacam bungee jumping, dan scuba diving. (Jelas diluar ambang sensasiku). Kenapa mereka tidak mencobanya sekali-kali? Memakai cadar dan makan di tempat publik dengan selusin pasang mata memperhatikanmu. Saudariku tercinta, itulah sebuah keahlian yang butuh penguasaan banyak noda-noda berwarna-warni.

No comments:

Post a Comment