Another
terjemahan dari sini. Masya Allah cerita yang mengagumkan dan satu pesan yang
tak terlupa : kita sebagai perempuan seringkali menginginkan hal-hal yang
menantang (tapi tidak sesuai untuk kita) layaknya naik gunung dsb, padahal
tantangan besar itu ada pada menjalankan sunnah. Check it out!
| image courtesy by Ani-Bee |
“Bagaimana
caramu makan?” orang-orang bertanya padaku. Seperti, darimana masuknya makanan,
atas atau bawah? Kadang aku harus menahan keinginan menjawab, “dari atas.” Pertanyaan
macam apa itu? Bagaimana mungkin aku makan dari atas cadarku? Apa, aku pelototi
makanannya, dan makanan itu akan turun ke hidungku lalu ke mulutku? Yang benar
saja? Tentu saja aku buka sedikit cadarku dan makan dari bawah, mulutmu juga letaknya
di bawah kan?
Kau akan
mengira mereka akan berhenti disitu. Tapi tidak, mereka perlu melihat aksi
nyatanya. Jadi setiap aku duduk untuk makan, mereka akan berusaha duduk di
seberangku. Dan makanan mereka akan dingin sementara mereka menonton
pertunjukan seorang gadis mencoba makan dengan mulut tertutup. Mereka akan menanti-nanti
sementara aku mengatur suapanku di piring, dan segera ketika tangan kananku
terangkat, mereka hening. Percakapan mereka berhenti di tengah.
Lalu aku
menyelipkan tangan kiriku di bawah cadarku dan aku mengangkatnya, supaya
tanganku bisa menutupi wajahku saat ia terbuka. Pada saat itu mereka akan
mengerling, tidak sadar akan lengan baju mereka yang menyentuh piring mereka
atau ekspresi gembira di wajah bingung mereka. Lalu dengan cepat, isi sendokku
telah masuk ke dalam mulutku dan pekerjannya selesai. Bismillah. Cadar kembali
ke posisi semula dan aku tersenyum dengan mulutku yang penuh pada wajah-wajah
yang terpesona.
Mereka masih
memandangiku beberapa saat dalam sedikit ketakjuban. Lalu mereka kembali pada
kalimat-kalimat mereka yang belum selesai dan kembali makan. Tapi mereka masih
terus memandang, secara terang-terangan dan diam-diam. Jika kita kebetulan
bertemu pandang aku tersenyum, mereka melihatnya dari mataku dan mereka ikut
tersenyum, malu.
Kebanyakan
mereka (terutama bibi-bibi) menawarkan nasihat yang tulus, “ayo duduk di pojok
sini; kau bisa melepasnya dan makan dengan tenang, tidak ada laki-laki lewat.”
Yang lain menggelengkan kepalanya tidak percaya, “kau gila, kenapa kau
melakukan ini pada dirimu sendiri!” Yang lainnya lagi beralasan, “Cuma mau
lihat bagaimana..” Tidak apa-apa, kau tau, rasa penasaran itu manusiawi. Dan aku
biasanya tidak keberatan. Itu menghiburku, memberiku hiburan selama waktu
makan.
Namun kadang
mereka melihat apa yang ingin mereka lihat : aku menjatuhkan sesuatu diatas
cadarku. Bisanya terjadi saat aku melamun (dimana aku cenderung melakukannya). Seperti
waktu itu, saat kami baru saja selesai ujian dan kita mendiskusikan jawabannya.
Muram, aku tenggelam memikirkan jawabanku yang salah.
Jadi waktu
itu aku duduk minum secangkir teh, dan aku tidak mengangkat cadarku dengan
cukup, dan jadilah lingkaran coklat besar dibawah hidungku. Hari itu panas dan
aku tidak sadar hangatnya noda itu. Temanku melihatku dan bertanya, “Zehra?
Apakah kau baru saja minum lewat cadarmu?” Apa? Tidak! Refleks tanganku
menyentuh mulutku dan aku merasakan basahnya. Allahu Akbar! Dan setiap orang
termasuk teman-teman laki-laki yang berdiri di dekat kami mulai tertawa dan
akupun tertawa. Temanku mulai mengusapkan tisu diatasnya dan itu membuat kami
tertawa semakin keras. Bicara tentang histeria pasca ujian.
Jadi mereka
yang jalan denganku sudah terbiasa dengan pertanyaan ini, “apakah ada sesuatu
di cadarku? Kau yakin? Tolong cek lagi. Ada noda kecap atau sisa es krim?”
Pertama
kali makan es krim adalah pengalaman tersendiri. Angin dan melelehnya tidak
membantu. Alhamdulillah tapi, semua nodanya ada di bagian dalam cadar jadi aku
dengan tidak berdosa berjalan di seputar kampus seharian, sembunyi-sembunyi
merasakan cokelat darinya. Saat aku sampai rumah aku lepas cadarku untuk
mengkonfirmasi kecurigaan, dan benar ada pulau coklat di atasnya.
Jadi memakai
cadar adalah petualangan tersendiri dan
tentu petualangan yang lebih besar makan dengan memakai cadar. Perempuan-perempuan
membayangkan tentang kagiatan-kegiatan klise semacam bungee jumping, dan scuba
diving. (Jelas diluar ambang sensasiku). Kenapa mereka tidak mencobanya
sekali-kali? Memakai cadar dan makan di tempat publik dengan selusin pasang
mata memperhatikanmu. Saudariku tercinta, itulah sebuah keahlian yang butuh
penguasaan banyak noda-noda berwarna-warni.
No comments:
Post a Comment