Pages

Friday, November 30, 2012

Nikah?

Nikah? N i k a h ? Siapa yang mau nikah? Siapa saja. Semoga dimudahkan. Jika diberi pertanyaan “nikah, siap kah?”, bagaimana anda menjawabnya?
Nikah butuh persiapan yang panjang. Apalagi kaum hawa. Kami harus belajar dan mempersiapkan selain tentang prosesi dan fiqh nikah itu sendiri juga hal-hal lain mengenai manajemen keuangan rumah tangga, mengasuh bayi, mendidik anak, psikologi anak dan remaja, pendidikan anak, seni hidup bertetangga, cara pintar memasak, perawatan tubuh, seni dekorasi rumah, dan seabrek lainnya.

Wednesday, August 15, 2012

Aku Tak Akan Membuatmu Menunggu



Kau tahu, menunggu itu membosankan...
Iya, kalau kau tahu seharusnya kau tidak perlu menunggu...
Iya, kalau kau tahu persis orang yang kau tunggu itu benar-benar melakukan hal bodoh yang membuat engkau membuang waktu hidupmu percuma, hanya untuk menunggunya...
Iya, kalau tak ada hal lain yang cukup layak, setimpal manfaatnya, yang bisa kau lakukan untuk mengganti kerugian waktu di saat menunggu...
Iya, kalau pekerjaan di depan jadi tertunda karena kau harus menunggu, menundanya sementara waktu..

Sunday, August 12, 2012

Kenapa Saya Nggak Pacaran (1) : Karena Saya Percaya Sama Allah



Sedang gejala pilek nih, mumet juga, panas tapi dingin. Tapi saya paksakan nulis juga. Soalnya baru ngeh, tulisan-tulisan sebelumnya cuma buat kalangan tertentu aja. (?) Hehe. Peace.

Temanya klasik sih. Tapi karena masalah klasik itu biasanya jadi disepelekan. Tulisan ini, anyway, saya dedikasikan buat temen-temen saya yang kayaknya pada mulai jatuh cinta. Wehehe.
Ga tau cinta apa nafsu, ya pokoknya itu lah. Demen sama lawan jenis. Insya Allah bakal saya bikin serial. Soalnya kalo semua alasan atas "Kenapa Saya Nggak Pacaran" ditulis jadi satu, bakal panjang banget.
Jadi Menjenuhkan, bukan? Nah, mari mulai dengan yang satu ini.

Sunday, July 15, 2012

Kau Ini Akhwat, Maka Bersikaplah Layaknya Seorang Akhwat!

Ehm... Tulisan ini berangkat dari keprihatinan saya terhadap diri saya sendiri. Yup!

Jadi, dulu pas jaman SMA saya (yang saat itu masih belum merasakan dunia ikhwah) mengira yang namanya akhwat itu adalah muslimah yang jilbabnya lebar. Dan kalau jilbabnya lebar sudah pasti ibadahnya, sikapnya, tutur katanya, baiiiik semua. Interaksinya dengan lawan jenis benar-benar terjaga. Ga geje, ga sembrono.

Saya dengan jilbab lebar dan rapi ini belum lama bersahabat. Jadi, walaupun sudah rapi dan gedhe gini jilbabnya, saya belum berani menyebut diri saya akhwat (yahhh...walaupun gak mau juga dianggep cewek biasa :3). Haha. Jadilah saya galau, berada pada posisi yang membimbangkan. Antara cewek dan akhwat. Setengah-setengah.