Pages

Sunday, July 15, 2012

Kau Ini Akhwat, Maka Bersikaplah Layaknya Seorang Akhwat!

Ehm... Tulisan ini berangkat dari keprihatinan saya terhadap diri saya sendiri. Yup!

Jadi, dulu pas jaman SMA saya (yang saat itu masih belum merasakan dunia ikhwah) mengira yang namanya akhwat itu adalah muslimah yang jilbabnya lebar. Dan kalau jilbabnya lebar sudah pasti ibadahnya, sikapnya, tutur katanya, baiiiik semua. Interaksinya dengan lawan jenis benar-benar terjaga. Ga geje, ga sembrono.

Saya dengan jilbab lebar dan rapi ini belum lama bersahabat. Jadi, walaupun sudah rapi dan gedhe gini jilbabnya, saya belum berani menyebut diri saya akhwat (yahhh...walaupun gak mau juga dianggep cewek biasa :3). Haha. Jadilah saya galau, berada pada posisi yang membimbangkan. Antara cewek dan akhwat. Setengah-setengah.




Akibatnya, kadang saya mencari-cari pembenaran saat futur. Saat ogah-ogahan ngaji, saya pikir : "ah... gak pa pa lah.. sekali-kali ngaji, sekali-kali libur dulu. yang penting masih ngaji, ga harus sering-sering. toh aku masih berproses jadi akhwat... belum jadi akhwat kaffah. haha" Pun saat interaksi dengan ikhwan  agak kebablasan, kadang saya suka mencari-cari pembenaran serupa.

Sebenarnya hal ini juga dipicu oleh fakta-fakta yang saya lihat diluar. Yaitu, saat saya melihat sendiri bahwa tidak semua akhwat (muslimah berjilbab lebar-red) akhlaknya sempurna. Masih ada beberapa, yang meski jilbabnya lebar, tapi bercandanya sama ikhwan sering banget. Meski sering hadir di kajian, sering pula chatting sama ikhwan ajnabi. Meski sering syuro kesana kemari, tapi kalau ditanya soal tilawah dan hafalan, yaaaa begitulah...

Kecewaaaa.. saya kecewa sekali. Kekecewaan yang membuat saya seringkali hampir putus asa. Maksudnya gini, kadang saya berpikir: "Sudahlah... Jalani aja sesuka saya. Toh diluar sana ga cuma saya koq yang kayak gini..."
Lantas saya sadar, kekecewaan saya ini lahir dari harapan saya dulu yang terlalu tinggi terhadap sosok seorang akhwat. Bahwa setiap akhwat (muslimah berjilbab lebar-red) adalah sempurna (tentu saja sempurna dengan kriteria tersendiri). Saya lupa, bahwa mereka juga manusia. Banyak khilaf, banyak dosa. Saya juga. Tapi ini tidak boleh menjadi permakluman. Karena diluar sana sosok-sosok akhwat sempurna, yang rajin ngaji, rajin dakwah, kuat menjaga izzah dan iffahnya maupun orang lain, benar-benar masih ada. Mungkin belum kutemukan untuk saat ini. Tapi, seperti kata seseorang padaku waktu itu, jika tak ada akhwat seperti itu di sekitarmu, maka jadilah akhwat yang seperti itu.

Kau ini akhwat, maka bersikaplah layaknya seorang akhwat!

No comments:

Post a Comment