Pages

Sunday, October 12, 2014

A Drama We Take The Leading Role

It's not until the end of my senior high school, aku sadar aku punya bakat terpendam. *ehem* Akting, that is. 

What? Malah ketawa.
Nggak percaya?
Ya sudah.

Itu yang pertama (dan terakhir kalinya) aku tampil di sebuah drama (dalam rangka ujian praktik bahasa jawa, i speak bahasa jawa krama, can you imagine it??) sebagai tokoh utama. Ada akting nangis dan, before i knew it, aku sudah berlinangan airmata. When the show's over, kulihat ibu guru juga ikut menangis. Yattaaa! I did it! ^o^

And it's not until recently, everytime i see someone acts, or some movies, atau orang latihan drama, i can't help but observe them carefully. Dan sok-sokan menilai mereka aktingnya bagus atau tidak. Haha.

Now that i think about it, sayang sekali, it's not something that i can be serious about. Maksudku, aku nggak mungkin terjun ke dunia perfilman (alay -_-) atau ikut kelompok drama 'kan? Karena itu tidak sesuai dengan prinsipku. Akhirnya, bakatku itu cuma kugunakan pada kesempatan-kesempatan tertentu di real life. 

Kalau kamu akting di dunia nyata, Apa itu artinya kamu nggak tulus? Kurasa tidak juga. Ada beberapa saat kita tida harus menunjukkan apa yang ada di dalam hati kita (hati kita yang tidak perfek). Misal dulu ada masa dimana aku ketemu orang yang senang sekali bercerita tentang dirinya dari A-Z tapi beliaunya sendiri jarang mendengarkan. Kalau kuikuti kemauanku, mendingan aku cuekin aja. Tapi demi menyenangkan dirinya, aku tampil dengan penuh minat.

Dulu juga ada saat dimana kalau aku tidak menolak, aku pasti akan dihadapkan dimana aku harus melanggar prinsipku. Tapi aku juga tidak bisa menolak langsung dengan kata-kata karena akan menyakiti seseorang. Akhirnya dengan pasang muka cemas, ketakutan, beberapa detik saja, aku dibebaskan dari hal itu! Yay!

Pernah satu lagi, beberapa kali aku dihadapkan pada sebuah forum yang ngomongnya tentang pacaran dan gebetab mulu. Aku nggak mau ikut-ikutan nimbrung karena nimbrung berarti setuju atas tindakan mereka. Tapi aku juga nggak mau diem dengan wajah bete, karena aku nggak mau dipikir orang jomblo itu terlihat sengsara dan kerjaannya bete melulu. Akhirnya aku pasang wajah ceria tapi cuek, dan (pura-pura) antusias melakukan aktivitas tertentu. 
Jadi meskipun aku berada dalam forum mereka, dan aku sangat bisa mendengar setiap kata yang mereka ucapkan, aku berkting seakan-akan aku have fun dengan duniaku sendiri. It's the hardest. Soalnya muak denger orang ngomongin pacaran, tapi tetep harus akting asyik sendiri.

Intinya, ada masa-masa dimana kita harus berakting, demi kebaikan kita maupun orang lain. Dan saat itu datang, please, be good. *nyengir*

You know... in the end, hidup ini adalah segalanya tentang akting, tentang drama. Engkau pelaku utama di drama itu. Yang lain cuma supporting actors. Hanya saja, kamu sendiri yang menentukan harus bagaimana kau berakting. Dan kamu sendiri yang menentukan pemeran utamanya bakal end-up sebagai hero, atau loser. 24 jam/hari, seumur hidup kamu akting. Rewardnya, atau awardnya kalau kita bilang dalam dunia peran, ada di kehidupan kedua.

Best Actor kah?

No comments:

Post a Comment