Pernah mimpi sesuatu sampai nangis beneran, nangis dalam kondisi tidur? Pasti pernah kan? Aku juga. Lumayan sering. Entah itu mimpiin sesuatu yang sedih, trenyuh, bahkan mengerikan. Semalam tadi entah kenapa, dua kali mimpi dan dua-duanya bikin aku nangis, lalu terbangun. Tapi bukan mimpi buruk (karena itu i guess it's okay to share). Dan uniknya, dua mimpi itu seperti film yang diputar. Aku tidak terlibat di mimpi itu, entah siapa orang-orang dalam mimpiku itu, yang pasti aku hanya sebagai penonton.
Mimpi pertama :
Laki-laki itu mungkin berusia duapuluhan. Seorang mahasiswa tingkat akhir. Sedangkan adik laki-lakinya masih SMP. Sudah sejak lama laki-laki itu berusaha menasihati adiknya agar adiknya itu menjadi anak yang taat beragama. Sering ia menasihati langsung, mengajak ke pengajian, dan memberi buku bacaan. Tapi adiknya itu, layaknya anak SMP pada umumnya, tidak menggubris kakaknya.
Selang beberapa waktu, saat sang kakak mulai berhenti menasihati adiknya itu, entah kenapa adiknya justru mulai tertarik belajar agama. Sang adik kemudian seringkali meminta kakaknya untuk meminjamkan buku-buku dari perpustakaan masjid tempat kakaknya kuliah. Terangsaja kakaknya akan dengan senang hati membawakan buku-buku agama dari perpustakaan masjid kampusnya untuk sang adik tercinta.
Waktu berganti, sang kakak mulai sadar. Buku yang minta dipinjamkan bukan lagi buku-buku agama yang ringan, tapi adiknya itu mulai minta dipinjamkan kitab-kitab ulama yang tebal tebal. Bahkan sang kakak sendiri belum pernah membacanya. Waktu berganti, dan sang kakak mulai sadar. Barangkali ilmu agama yang adiknya miliki kini jauh lebih banyak darinya. Waktu berganti, dan sang kakak mulai tersadar. Adiknya kini lebih banyak mengamalkan agama ketimbang dirinya.
Suatu hari saat sholat berjamaah bersama adiknya di masjid kampus itu, sang kakak seperti mendapat tamparan. Melihat ke beberapa waktu belakangan, adiknya banyak kemajuan sedangkan ia stagnan, kalau tidak sedikit demi sedikit mengalami kemunduran.
Rupanya, hidayah yang lama ia dambakan untuk adiknya itu, memang telah sampai kepada adiknya. Akan tetapi, hidayah pada dirinya sendiri mulai tercerabut.
Aku rasa aku mulai nangis saat kakaknya sadar buku-buku yang adiknya baca itu semakin berat. Awalnya aku agak tidak paham kenapa sang kakak sedih melihat kemajuan adiknya. Rupanya sang kakak sedih lantaran ia sadar hidayah yang ia dambakan untuk orang terdekatnya, justru hilang dari dirinya sendiri. Something that definitely i can relate to. :'(
Dan akupun terbangun dari tidur, dengan perasaan campur aduk. Mimpi kedua insya Allah disambung di tulisan yang lain.
No comments:
Post a Comment