Akhiy, Engkau Telah Kutembak Mati!! (Surat Terbuka Kedua Untuk Para Akhiy)
Terkhusus untukmu wahai akhiy nan bersahaja lagi bisa menjaga prasangka,
Di bawah kolong langit Allah manapun engkau ber-atap pada.
Assalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Akhiy,
apakah sepucuk surat yang kukirimkan sedari kemarin kepadamu telah
selesai engkau baca-i dan pula engkau fahami? Telah bisakah engkau
mengartikan setiap rangkaian kata yang aku goreskan bersama ledakan
emosiku yang tiada terkira saat surat itu aku tulisi?
Entahlah,
semoga engkau benar-benar bisa menangkap maksud yang hendak
disampaikan hati. Semoga pula engkau masih menjaga prasangkamu kepadaku
atas setiap kalimat dalam surat itu yang mungkin agak vulgar bagimu.
Sungguh, tidak ada sedikitpun maksud dihatiku untuk berlebai-lebai
apalagi untuk begenit-genit ria kepadamu melalui surat itu.
Ketahuilah
akhiy, kalimat demi kalimat yang aku tuliskan dengan penaku itu adalah
kalimat dari perempuan-perempuan yang sedang dalam ‘ke-tidak-pastian’
seperti diriku, kalimat dari perempuan-perempuan yang hatinya tengah
dilanda begitu dahsyatnya gelombang asmara seperti hatiku. Sungguh
begitu ya akhiy, percayalah kepadaku.
Akan
tetapi ya akhiy, semalam telah kurenungi semua kesalahanku dan pula
telah kutangisi semua maksiat yang pernah kulakoni bersamamu, ternyata
barulah aku menyadar diri bahwasanya engkau tidaklah satu-satunya orang
yang dikemudian hari akan mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah
terlanjur terjadi diantara kita dihadapan Allah Ta’ala. Aku pula ya
akhiy, aku pula harus mempertanggungjawabkannya karena tidaklah kita
melakukan dosa dan maksiat itu melainkan kita berdua sadar akan
akibatnya.
Akhiy,
memang tidaklah mungkin tepuk akan menghasilkan bunyi jikalah engkau
bertepuk hanya dengan sebelah tangan saja, bukan? Tidaklah mungkin
engkau akan berani mengirimiku sms sekian kali sehari jikalah tidak
karena aku yang pernah sekali waktu membalasinya. Tidaklah mungkin
engkau akan menebarkan pesonamu jikalah aku tidak memberikanmu sebidang
lahan dihatiku untuk menyemaikannya. Tidaklah mungkin engkau bisa
memandangiku jikalah tidak karena aku yang menampakkan diri di
hadapanmu. Serta tidaklah mungkin engkau diam-diam bisa mencuri hatiku
jikalah tidak karena aku yang telah melonggarkan kunci nan terpasang
pada pintunya itu. Bukan begitu? Aku pula salah, sekali lagi aku akui
kalau aku pula salah.
Akhiy,
harusnya sedari awal telah kutembak mati saja dirimu sebelum akhirnya
engkau bisa membobol pertahananku. Harusnya aku tidak izinkan saudariku
untuk memberikan nomor handphoneku kepada sembarang orang, apalagi kepada mahkluk Allah atas nama laki-laki sepertimu. Harusnya langsung kudelete pesan singkatmu ketika pertama kali kau mencoba mendekatiku. Harusnya tidak aku simpan nomormu di memori handphoneku semasa itu, dan harusnya aku pula tidak boleh tertarik untuk menghafal nomor cantikmu itu.
Akhiy,
harusnya tidakku terima permintaan pertemanamu di fesbukku, harusnya
tak kuladeni inbox-inbox membadai lagi menggelombang dahsyat yang kau
kirimkan melalui pesan masukku. Harusnya aku tak boleh lalai dalam
menjaga hatiku, harusnya aku tak boleh lemah dalam menjaga hijabku,
harusnya aku tak boleh memberimu kesempatan sekecil apapun sehingga
engkau bisa selamat dari fitnahku.
Kutambahi
untukmu akhiy, seharusnya dari semula aku telah bisa mengukur kadar
diriku sebelum mencoba berinteraksi denganmu di lembaga dakwah kampus
kita kala itu, harusnya aku menahu akan diriku yang masih berhati tahu,
yang sekali tekan saja maka akan menghancur remuklah ia, dan yang
sekali remas saja maka akan meremahlah sari-sarinya.
Harusnya
aku tak boleh pura-pura lupa akan peringatan Nabiku yang telah
mengingatkanku bahwa aku adalah bagian dari kaum yang kurang agama dan
‘akalnya. Harusnya aku mengerti kalau aku hanya akan bermain perasaan
saja dalam menilai setiap perkara, tidak sepertimu yang akan
menimbangnya dengan pertimbangan logika pula.
Aduhai,
sekiranya segala harus yang aku sebutkan itu telah aku lakukan dan
pula telah aku hindarkan dari semula niscaya, insya Allah aku akan
selamat dari fitnah nan sungguh tak mengenakkan hati lagi sangat
menyesakkan dadaku ini, dari fitnah yang telah membuatku menghinakan
diri dan kehormatanku sebagai kaum yang seharusnya dimuliakan oleh dien
yang mulia ini.
Akhiy,
sungguh aku jujur kepadamu bahwa sebenarnya aku teramat sangat malu
kepada diriku sendiri yang mengaku sebagai perempuan salafiyyah
penggenggam bara api sejati akan tetapi hatiku telah bemaksiat kepada
Rabbku yang Maha Mengetahui. Aku berkoar-koar dengan lisanku bahwasanya
aku adalah seorang perempuan yang tengah menetapi jalan menuju
ke-shalihahan nan hakiki akan tetapi ulahku tak kalah bejatnya dari pada
teman-temanku yang belum mengerti akan dien dan manhaj yang haq ini.
Yah,
betapa tidak lebih bejat aku ini kiranya daripada teman-temanku itu
karena aku nekad melanggar perintah-perintah syari’at sementara
hujjahnya telah tegak atasku, tepatnya dalam sebuah perkara yang pernah
kulakoni bersamamu beberapa masa yang lalu. Sedang mereka, mereka
melakukan kebejatan yang sama denganku semata-mata hanya karena mereka
belum mengetahui tentang apa-apa yang sedang mereka lakukan,
semata-mata hanya karena hidayah Allah belum teruntuk baginya sehingga
dalam hal ini tentu ampunan dan ‘pemakluman’ Allah pula masih ada untuk
ketidaktahuan mereka itu, bukan? Bukan begitu akhiy?
Akhiy,
aku juga malu kepada teman-temanku itu. Entah apalah sangkaan mereka
jika sekiranya mereka tahu tentang kebejatan moralku dibalik lebarnya
jilbabku ini. Entah apalah sangkaan mereka akhiy, jika mereka tahu
engkau telah menzinai hatiku dengan hatimu. Bukankah segala indra
terancam zina dengan bagiannya masing-masing ya akhiy? Ah, aku yakin
engkau tahu itu akhiy, aku yakin kalau telah sampai kepadamu hadist
rasulullah yang berbunyi:
“Dari Abu hurairah, Nabi shalallahu ‘alayhi wassalam
bersabda, “Telah ditentukan atas setiap manusia bagiannya dari zina.
Dia pasti memperoleh bagian tersebut. Maka zina kedua mata adalah
melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah ucapan,
zina tangan adalah merampas, zina kaki adalah melangkah, dan hati
berkeinginan dan berangan-angan dan hal itu dibenarkan atau didustakan
oleh kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim)”
Astagfirullah
Akhiy, bukankah kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang
berzina itu akhiy?? Bukankah tanganku telah berzina dengan tanganmu
ketika kita sedang berbalasan sms akhiy?? Bukankah telingaku telah
berzina dengan suaramu ketika sekali masa engkau berani menelfonku
akhiy?? Bukankah mataku telah berzina ketika membacai semua pesan-pesan
panjang nan berisi bahasa-bahasa gombal versi ikhwan yang tengah
dimabuk kepayang sepertimu akhiy? Aduhai, hatiku pula telah berzina
ketika aku berangan-angan akan hadirmu disini ya akhiy.
Sungguh,
jikalah tidak karena pertolongan dan penjagaan dari Allah, maka
mungkin saja zina yang sebenarnya telah kita lakukan, akhiy!! Sungguh,
jikalah tidak karena petunjuk dariNya niscaya kita akan menjadi manusia
yang akan meraung-raung menyesali nasib kita sendiri pada hari
perhitungan dan pembalasan atas setiap perbuatan yang telah kita lakukan
selama di dunia ini ya akhiy. Benarkan akhiy?
Di
atas semua itu, sungguh aku malu kepada Allah Ta’ala yang Maha
Mengawasi setiap gerak dan gerik hambaNya ya akhiy. Begitu lemahnya
diriku dalam meyakini pengawasan Allah atasku. Sungguh aku seolah begitu
tegar menjaga hijab dan hatiku dihadapan teman-temanku dan pula
dihadapan kaummu nan di dunia nyata itu, namun akan melemah
pertahananku apabila aku sedang berkesendirian di dalam kamarku untuk
membalasi sms-smsmu, atau ketika di depan layar monitorku dalam
meladeni ajakanmu untuk sesekali berchatting maksiat dan dosa denganmu melalui kotak obrolanku.
Aduhai,
apalah lagi yang akan menjadi penjaga atas semua amalanku jika bukan
ilmu dan kesadaranku akan pengawasan Allah nan senantiasa membersamaiku
selalu, baik ketika aku dihadapan manusia ataupun disaat aku dibelakang
mereka??
Oleh
sebab itu ya akhiy, marilah kita sama-sama memohon kepada Allah agar
Dia mengampuni segala salah dan khilaf kita. Marilah kita
merengek-merengek kepada Allah agar Dia tidak membalasi semua dosa dan
maksiat kita ini dengan adzabNya yang sungguh pedih lagi tak terperi.
Mari kita merayuNya agar Dia tetap memberikan kita petunjukNya dan
selanjutnya menjaga kita dengan penjagaanNya yang Maha sempurna.
Begitulah
akhiy, alhamdulillah setelah merenugi maksiat ini dari manakah kiranya
ia bermuasal maka aku sekarang akan berusaha, insya Allah untuk keluar
dan menjauh darinya semampuku. Aku akan kembali menata ulang hati dan
diriku sehingga aku benar-benar pantas menjadi perhiasan dunia terindah
bagi seseorang yang akan mengetuk pintu rumahku dan pula akan menjabat
tangan ayahku untuk mengikrarkan ‘akad nan mulia pada suatu hari yang
insya Allah akan Allah peruntukkan jua bagiku.
Mulai
saat ini aku akan melakukan shalat istikharah dengan sebenar-benarnya
istikharah, yaitu meminta agar Allah memberikan seseorang yang terbaik
menurutNya untuk dunia dan akhiratku. Yah, ternyata selama ini aku
tanpa sadar telah memaksakan kehendakku kepada Allah yang Maha Tahu agar
menjodohkan jua aku denganmu karena aku telah terlanjur terjerat cinta
nan salah makna kepadamu, aku telah kadung terperangkap maksiat cinta
yang hanya akan mencelakakanku.
Selanjutnya,
dengarkanlah olehmu baik-baik hal yang akan aku sampaikan ini ya
akhiy. Aku telah menembak mati dirimu akhiy!! Yah, tadi malam aku telah
memutuskan untuk menembak mati dirimu ya akhiy!! Biarlah aku
berdarah-darah untuk melupakanmu yang telah terlanjur lekat dalam
ingatanku daripada aku menyediakan diriku untuk terjun bebas ke dalam
kobaran api neraka yang berkobar ganas lagi teramat sangat panas,
sementara aku tidak ada daya untuk keluar darinya, kecuali atas ampunan
dan kehendakNya saja.
Sudahlah
akhiy, lupakan saja suratku nan kemarin petang itu. Biarlah untuk
sementara aku memperbaiki diriku terlebih dahulu sebelum aku mencoba
lagi untuk menyeriusi perkara nan sungguh sangat besar ini, yaitu
menikah. Mungkin selama ini ekspektasiku akan sebuah pernikahan terlalu
tinggi, dimana aku hanya membayangkan hal yang indah-indahnya semata
dan tidak mempedulikan perkara-perkara tidak terduga lainnya yang bisa
saja akan menggoyang biduk rumah tanggaku nantinya. Biarlah kucukupi
diriku dengan ilmu tentangnya terlebih dahulu sebelum aku putuskan
untuk meng-eksekusi keputusanku, yaitu keputusanku untuk menikah itu.
Biarlah
sekarang benar-benar aku tapaki saja jalan keshalihahan itu dengan
sungguh-sungguh agar kemudian Allah mendatangkan laki-laki yang pula
shalih untukku.
Biarlah aku bersabar dengan penantianku, meski dengan penantian nan panjang dan kadang melelahkan serta melemahkan asaku asalkan aku bisa mengakhirinya dengan sesuatu yang diridhoi lagi diberkahiNya, insya Allah. Aamiin.
Biarlah
aku tetap menanti sampai Allah benar-benar sandingkan aku dengan
seseorang yang memang pantas dan layak untukku nanti, bukan dengan
seseorang yang hanya berani menyulut api yang ketika api itu berkobar
dengan sangatnya iapun kemudian lari, bukan pula dengan seseorang yang
hanya berani mengundang fitnah yang disaat fitnah itu menuntut
penyelesaian darinya iapun menghilang entah kemana.
Dan
jikapun pada akhirnya aku telah tak kuat lagi dalam menahan diri akan
inginku ini maka biarlah aku sedikit ‘menurunkan’ harga diriku untuk
segera minta dinikahi oleh seseorang yang telah pasti keshalihannya itu
melalui perantara ayah atau paman-pamanku. Aku telah jera bermain
serong seperti ini, ya akhiy!! Tentulah akan jauh lebih terhormat bagiku
untuk berani maju menawarkan diri dalam perkara yang halal lagi pernah
dicontohkan oleh seorang shahabiyyah di masa Rasulullah daripada
secara tidak sadar telah mempersilakanmu untuk menzinai hatiku, tanpa
sadar aku telah mempertaruhkan haga diriku itu hanya demi sebuah gengsi
yang tiada arti. Insya Allah, inilah prinsipku sekarang ya akhiy.
Begitulah
akhiy, inilah keputusan yang telah aku ambil malam tadi sehingga
bersyukurlah engkau karena tidak jadi bersusah-susah mencari alasan
untuk menolak tantanganku agar engkau segera menikahiku seperti dalam
suratku yang telah lalu.
Insya
Allah aku selalu mendo’akanmu agar engkau pula mendapatkan perempuan
shalihah nantinya, yang dengannya bisa kau sempurnakan separuh agamamu
sehingga engkau pula tak perlu lagi berpayah-payah dalam menjaga dirimu
dari fitnahku dan kaumku.
Demikianlah
akhiy, sesekali aku tak hendak merendahkanmu dengan keputusanku ini.
Aku bukannya mencapmu sebagai laki-laki yang tidak shalih sehingga tidak
pantas untuk menikahiku, akan tetapi karena memang akulah yang merasa
bahwa diriku belum sepenuhnya menjadi perempuan shalihah yang layak
untuk mendampingimu.
Entahlah
akhiy, sungguh aku telah merendah diri dan menyemburu hati kepada
perempuan-perempuan shalihah yang berada disekitarku. Sungguh sangat
jauh posisiku dari mereka dihadapan Rabbku. Betapa tidak, disaat hatiku
dilalaikan olehmu, si shalihah malah sedang dikhusyukkan oleh
dzikrullah sehingga hatinya menjadi sangat sensitif terhadap kebenaran
dan sangat peka terhadap ke-tidak-benaran. Disaat aku sibuk dalam
meladeni segala ulahmu, si shalihah pula sedang sibuk mencukupi dirinya
dengan ilmu. Disaat fikiranku tengah galau memikirkan dirimu, si
shalihah juga sedang asyik menghafalkan ayat-ayat dari al quran nan
mulia dan pula akan memuliakan dirinya setelah itu.
Ah,
sekali lagi aku malu kepada mereka dan kepada Rabb kita. Tidaklah ada
apa-apanya diriku ini dibandingkan mereka. Semoga aku benar-benar
dimudahkan Allah untuk menjadi seperti mereka. Semoga begitu. Semoga
engkau pula bantukan aku untuk menjadi seperti mereka, semoga engkau
selalu do’akan aku.
Sekali
lagi, semoga engkau mengerti kalau engkau telah kutembak mati. Yah,
engkau telah kutembak mati malam tadi ya akhiy, insya Allah.
Aku,
Ukhty muslimah nan tengah berpayah agar kembali menjadi shalihah
No comments:
Post a Comment